ENDE, – Krisis bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dan Pertamax di Kabupaten Ende belum berakhir.
Sejak beberapa hari terakhir, antrean panjang kendaraan roda dua dan roda empat terlihat di tiga SPBU utama: SPBU Terminal Ndao, SPBU Jalan Prof. W. Z. Yohanes, dan SPBU Jalan Gatot Subroto.
Di luar SPBU, praktik penjualan BBM eceran justru makin marak. Harga meroket jauh di atas Harga Eceran Tetap (HET). Harga pertamax botolan setengah liter dijual Rp 20.000, sedangkan botol penuh mencapai Rp 35.000 hingga Rp 50.000 ini berlaku hingga ke pelosok dan ke kecamatan – kecamatan
Situasi ini memantik kritik tajam dari Ketua Gerakan Ende Bersatu (GEB), Bertolomeus Betu Rati.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Indikasi Permainan Harga
Bertolomeus, yang juga aktivis PMKRI Yogyakarta, menilai pelaku usaha kecil menengah memanfaatkan situasi kelangkaan beberapa hari ini untuk meraup keuntungan besar.
“Kami menduga ada pelaku usaha nakal yang menaikkan harga sepihak. Situasi ini tidak boleh dibiarkan,” ujarnya.
Ia menegaskan, harga di SPBU masih sesuai ketentuan, namun di tingkat pengecer kenaikannya ekstrem—dua kali lipat bahkan lebih.
Halaman : 1 2 Selanjutnya


Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe



