Menulis pesan Natal kepada pemimpin bukan sekadar menyusun kalimat, melainkan sebuah proses refleksi eksistensial mengenai nilai-nilai Natal, etika kepemimpinan, dan realitas sosial masyarakat Sikka.
Secara filosofis, lomba ini mengajak generasi muda untuk berhenti dan berpikir, menjauh dari riuhnya linimasa media sosial, serta menggali akar (radikal) dari harapan dan kegelisahan mereka.
Simpatisan Vox Point Sikka, Niko Sanggu, memberikan apresiasi tinggi. Ia menyebut lomba ini sebagai intervensi kultural yang sangat dibutuhkan saat ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Di tengah banjir informasi yang membuat pikiran kita hanya berada di permukaan, lomba ini memaksa anak muda untuk membumi dan melakukan analisis mendalam,” jelasnya.
Niko menekankan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk pendidikan kritis. “Natal adalah momentum refleksi, dan pemimpin adalah subjek sekaligus objek refleksi tersebut. Dengan menulis pesan, anak muda belajar mengartikulasikan pikiran secara terstruktur dan bertanggung jawab,” tambahnya.
Ketua Panitia Konferensi Wilayah (Konferwil), Gregorius Cristison Bertholomelus, S.H., M.H, menjelaskan bahwa lomba ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan menjelang Konferwil.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya



Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe




