“Kami menilai komunikasi yang hangat dan musyawarah seharusnya didahulukan. Kalau sejak awal manajemen Perse datang berbicara dengan Flores United, persoalan ini mungkin tidak akan menjadi polemik,” ujarnya.
Siprianus juga menilai kejadian tersebut menjadi pelajaran penting bagi pembinaan sepak bola di Kabupaten Ende. Ia berpendapat Perse Ende perlu memiliki sekolah sepak bola sendiri sebagai basis pembinaan pemain usia muda sehingga tidak bergantung pada perekrutan pemain dari klub lain.
“Setiap klub memiliki proses pembinaan yang panjang. Karena itu, proses tersebut harus dihargai. Kami berharap ke depan semua klub saling menghormati hasil pembinaan masing-masing demi kemajuan sepak bola Ende,” katanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Polemik ini mencuat menjelang bergulirnya Piala Suratin 2026 di Kabupaten Sikka, ketika seluruh peserta tengah menyelesaikan administrasi pemain sesuai regulasi PSSI melalui aplikasi SIAP Asprov.
Sampai berita ini diturunkan, kami belum berhasil mengonfirmasi pihak Perse Ende terkait berbagai pernyataan yang disampaikan Humas Flores United. Kami akan terus berupaya memperoleh konfirmasi dari pihak Perse Ende agar informasi yang disajikan tetap berimbang sesuai kaidah jurnalistik.



Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe




