“Kami malu sebagai tuan rumah. Mulai hari ini sistem pengamanan lebih ketat,” ujarnya.
Namun, langkah itu tidak meredam perdebatan publik. Sebagian menilai turnamen harus dihentikan demi keamanan, sementara lainnya berpendapat ajang ini harus jalan terus demi semangat persaudaraan.
Kericuhan Apebuan Cup menjadi cermin lebih luas, lemahnya tata kelola sepak bola lokal di NTT. Tanpa manajemen risiko yang matang, turnamen rakyat berpotensi berubah menjadi arena amarah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pertanyaannya, apakah panitia dan otoritas sepak bola daerah siap belajar dari insiden ini, atau hanya sekadar menunggu kericuhan berikutnya?
Halaman : 1 2



Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe




