Dari pengalaman tersebut, Pius menyadari pentingnya penguasaan bahasa sejak dini. Ia kemudian membuka ruang belajar gratis bagi anak-anak di desanya.
Taman baca ini tidak hanya mengajarkan bahasa Inggris, tetapi juga menggambar dan kerajinan tangan. Semua kegiatan dilakukan secara sukarela tanpa biaya.
Dalam menjalankan kegiatan, ia dibantu relawan lokal, Melinda Palang, serta beberapa relawan asing yang pernah terlibat dalam komunitas tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pada masa awal, keterbatasan fasilitas menjadi tantangan utama. Bahkan, untuk menunjang kegiatan belajar, anak-anak diminta membawa satu buah kelapa dari rumah. Kelapa itu diolah menjadi kopra untuk dijual, sementara tempurungnya dijadikan bahan kerajinan.
Kini, jumlah peserta mencapai sekitar 50 anak dari berbagai wilayah, tidak hanya dari Desa Kolimasang. Metode belajar pun dibuat menyenangkan melalui pendekatan belajar sambil bermain.
Simbol Perlawanan terhadap Stigma
Nama “Koli Ata Kiwan” memiliki makna mendalam. “Koli” merujuk pada wilayah tempat tinggal Pius, sementara “Kiwan” menggambarkan identitas masyarakat pegunungan yang kerap dipandang sebelah mata.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya



Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe




