Namun, di balik kreativitasnya, Pius mengakui masih menghadapi tantangan pasar di daerah. Ia menilai apresiasi terhadap karya seni di Flores Timur masih rendah.
Ia mencontohkan, patung ukiran kayu yang bisa dihargai hingga Rp10 juta saat dipamerkan di luar daerah, justru dianggap mahal jika dijual di kampung sendiri, bahkan dengan harga Rp1,5 juta.
Karena itu, ia lebih sering menyesuaikan karya dengan permintaan pasar. Meski begitu, Pius tetap berupaya menyisipkan nilai lokal, seperti motif tenun khas daerah pada patung-patung yang dibuatnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menariknya, meski sering disebut sebagai seniman, Pius justru merendah. Ia menyebut dirinya hanya sebagai “kui seni” karena sebagian besar karyanya dibuat berdasarkan pesanan, bukan murni dari ide pribadi.
Dirikan Taman Baca dari Pengalaman Pribadi
Di luar aktivitas berkarya, kepedulian Pius terhadap pendidikan melahirkan inisiatif mendirikan Taman Baca Pondok Koli Ata Kiwan pada Oktober 2025.
Gagasan ini berawal dari pengalamannya mengikuti pameran di luar Flores. Saat itu, ia kesulitan berkomunikasi dengan pengunjung asing karena keterbatasan kemampuan bahasa Inggris.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya



Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe




