“Kalau produksi tidak terencana, pasokan mudah terganggu. Akhirnya, kebutuhan harus didatangkan dari luar daerah,” ujarnya.
Di tengah pengembangan usaha tersebut, timnya mendapat tawaran kerja sama dari mitra di Jawa Barat untuk membangun pabrik tahu. Awalnya, kerja sama dilakukan dengan skema penyediaan lahan oleh pihak lokal dan peralatan oleh mitra.
Namun, setelah pembahasan, Arnold dan tim memilih membeli peralatan secara mandiri. Mitra hanya akan membantu pelatihan dan tenaga teknis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami ingin usaha ini dikelola secara mandiri dan berkelanjutan,” kata Arnold.
Ia juga menekankan pentingnya menghidupkan kembali semangat gotong royong dalam kegiatan ekonomi. Selama ini, menurut dia, gotong royong lebih banyak terlihat dalam kegiatan sosial.
“Ke depan, kami ingin gotong royong juga hadir dalam usaha ekonomi,” ujarnya.
Untuk membangun pabrik tahu, masyarakat diajak berpartisipasi melalui skema investasi bersama. Nilai minimal investasi ditetapkan Rp10 juta per orang.
“Lebih realistis mengumpulkan dana dari banyak orang dibanding mengandalkan satu investor besar,” kata dia.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya



Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe




