FLOTIM, – Di tengah derasnya arus modernisasi, sekelompok anak muda di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), memilih menenun masa depan mereka dari benang-benang tradisi.
Mereka berkumpul di sebuah rumah sederhana di Desa Gayak, Kecamatan Ile Boleng tempat yang kini dikenal dengan nama Rumah Tenun Milenial Adonara.
Di rumah itu, suara kayu gedogan berpadu dengan tawa anak muda. Di bawah bimbingan Mariana Tuto Demon, atau yang akrab disapa Ria Atasoge, generasi milenial Adonara belajar bukan hanya cara menenun, tetapi juga cara menjaga jati diri budaya Lamaholot agar tidak pudar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Melalui Rumah Tenun Milenial, kami ingin membuktikan bahwa budaya menenun di Adonara tetap hidup dan diwariskan kepada generasi muda,” ujar Mariana, pendiri rumah tenun tersebut, , Selasa (15/10).
Ia menuturkan, kegiatan di rumah tenun tidak sekadar menghasilkan kain. Di sana, anak-anak muda belajar memintal benang, mengikat motif, hingga mewarnai kain menggunakan bahan alami seperti daun tarum, kulit kayu, dan akar mengkudu.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya


Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe




