Menurut Dr. Maria Mathilda, aksara Lota bukan sekadar simbol tulisan kuno, melainkan representasi pengetahuan dan identitas masyarakat Ende.
“Melalui pendidikan, aksara ini bisa kembali hidup dan menjadi kebanggaan daerah,” ungkapnya.
Dari hasil evaluasi kegiatan, 90% peserta telah mampu memahami dasar penulisan aksara Lota dan siap menerapkannya di sekolah masing-masing.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Perlu Payung Hukum untuk Keberlanjutan
Salah satu peserta, Amin Aserakal, S.Pd., M.Pd, mengusulkan agar pelestarian aksara Lota diperkuat dengan Peraturan Daerah (Perda) atau Peraturan Bupati (Perbup).
Menurutnya, kebijakan tersebut akan mempercepat proses integrasi aksara Lota sebagai muatan lokal dalam kurikulum pendidikan daerah.
Komitmen Pemerintah Daerah
Dalam sambutan penutupan, Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ende menegaskan komitmen pemerintah untuk menjadikan kegiatan ini agenda rutin.
“Kegiatan ini menjadi momentum penting, apalagi dihadiri oleh tokoh berkompeten seperti Ibu Dr. Maria Mathilda Bhanda, M.Si, yang juga menjabat sebagai Wakil Bupati Ende,” jelasnya.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya


Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe



