“Kita sedang membangun ulang infrastruktur kebijakan maritim. Tak bisa hanya mengandalkan pendekatan birokratis,” ujarnya.
Isu-isu utama yang dibahas antara lain pelabuhan pintar (smart port), keamanan laut, serta digitalisasi sistem pelabuhan nasional yang menjadi kunci dalam menyongsong era logistik global berbasis teknologi.
Menurut Capt. Hakeng, letak geostrategis Indonesia—di antara Selat Malaka dan Laut Cina Selatan—adalah modal penting untuk memainkan peran sebagai penyeimbang kawasan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kita harus mampu bersaing dengan Tiongkok, India, dan Jepang. IMW jadi panggung diplomasi maritim dan unjuk solusi terhadap disrupsi global,” jelasnya.
Salah satu sesi yang disorot adalah Panel 9 bertema “Trade Risk and Regulatory Compliance”. Capt. Hakeng menekankan bahwa pembahasan ini krusial di tengah ancaman fragmentasi regulasi dan konflik geopolitik, seperti di Laut Merah dan Laut Cina Selatan.
“Kita tidak bisa bicara maritim tanpa membahas risiko perdagangan dan fragmentasi regulasi global. Ini adalah tantangan pelayaran abad ke-21,” tegasnya.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya



Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe




