Kapal Induk Otonom, Masa Depan Pertahanan Maritim Indonesia

Avatar photo

- Redaksi

Minggu, 23 Maret 2025 - 10:01 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Reporter : Arkadeus Aku Suka Editor : Redaksi Dibaca 400 Kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

DR. Capt. Marcellus Hakeng Jayawibawa, S.SiT., M.H., M.Mar. pengamat maritim dari Ikatan Alumni Lemhannas Strategic Center (IKAL SC),/Ket Foto : Dokpri

DR. Capt. Marcellus Hakeng Jayawibawa, S.SiT., M.H., M.Mar. pengamat maritim dari Ikatan Alumni Lemhannas Strategic Center (IKAL SC),/Ket Foto : Dokpri

LIPUTANFLORES.COM|JAKARTA, – Sebagai negara kepulauan terbesar dengan luas wilayah laut mencapai ± 5,8 juta km², Indonesia membutuhkan sistem pertahanan maritim yang efisien.

Namun, karakteristik geografis seperti perairan dangkal dan alur pelayaran sempit menjadi tantangan bagi pengoperasian kapal induk konvensional.

Captain Hakeng Jayawibawa dari IKAL SC menegaskan bahwa kapal induk bukan hanya simbol kekuatan, tetapi juga alat strategis dalam menjaga kedaulatan.

“Namun, Indonesia tidak membutuhkan kapal induk pesawat tempur seperti milik AS atau China. Kapal induk helikopter atau drone jauh lebih efektif,” ungkapnya.

Indonesia menghadapi ancaman di jalur strategis Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI).

Untuk itu, kapal induk harus mampu beradaptasi dengan kondisi wilayah.

Sebagai contoh, Iran telah mengembangkan kapal induk drone yang lebih hemat biaya dan fleksibel.

“Dibandingkan dengan kapal induk USS Gerald Ford yang berharga Rp 210 triliun, kapal induk helikopter dengan harga sekitar Rp 15,9 triliun lebih realistis untuk Indonesia,” tambah Captain Hakeng.

Baca Juga :  Menyambut Mudik Lebaran 2025, Regulasi, Keamanan, dan Infrastruktur yang Diuji

Solusi terbaik bagi Indonesia adalah kapal induk berbasis drone dan otonom dengan tonase 20.000 – 30.000 ton.

Keunggulannya meliputi:
Operasi Fleksibel – Tidak membutuhkan landasan pacu besar.

Efisiensi Biaya – Biaya operasional lebih rendah dibandingkan kapal induk konvensional.

Adaptasi Geografis – Mampu beroperasi di perairan dangkal dan sempit.

Pengembangan kapal induk otonom tidak hanya meningkatkan pertahanan, tetapi juga memperkuat industri maritim nasional.

Baca Juga :  Insiden Tabrakan Tongkang di Jembatan Mahakam: Peringatan Keras bagi Tata Kelola Infrastruktur Strategis

“Kita harus menggandeng galangan kapal lokal dan industri pertahanan untuk membangun kapal ini secara mandiri,” tegas Captain Hakeng.

Indonesia membutuhkan kapal induk otonom yang modern, fleksibel, dan sesuai dengan kondisi geografisnya.

Dengan mengadopsi teknologi drone, Indonesia dapat memperkuat pertahanan maritim secara efektif dan efisien.

Berita Terkait

Siap Layani Masyarakat, PELNI Kerahkan 55 Kapal dan 751 Ribu Tiket untuk Angkutan Lebaran 2026
Sengketa Tanah Keranga Labuan Bajo Inkracht, Santosa Kadiman dkk Dilaporkan ke Bareskrim atas Dugaan Pemalsuan Surat
Vape Mengandung Narkoba Marak, Capt. Hakeng: Pelaut Bisa Jadi Korban Tak Sadar dan Terancam Pidana serta Karir Kandas
UGM Beri Perlindungan Ketua BEM Tiyo Ardianto Usai Teror WhatsApp dan Dugaan Penguntitan
Siap Sukseskan Program Stimulus Ekonomi, PELNI Beri Diskon Transportasi Tiket Kapal Hingga 30%
Aktivis dan Penggiat Media Sosial Bersama Peniup Peluit (Whistleblower) Dihukum Karena Mengungkap Kasus Dugaan Korupsi BUMD Di Lingkungan Pemda DKI Jakarta
Menkumham Tegaskan Kajian Ideologi Komunisme untuk Akademik Tak Dipidana
Forum Komunikasi DPD–DPA IKAL Lemhannas RI Bentuk Tim Reformasi, Dorong Digelarnya Munas Khusus
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Berita Terkait

Selasa, 14 April 2026 - 13:11 WITA

Menanti Kebangkitan Sepak Bola NTT Lewat Piala Gubernur Liga 4 ETMC 2026 di Flores Timur

Selasa, 31 Maret 2026 - 23:23 WITA

Ulasan Lonn Segi Tak Sepanjang Gelarnya

Rabu, 11 Maret 2026 - 19:02 WITA

Ketika Dapur Kupang Tercekik Gas, Alarm Keras Kemandirian Energi NTT

Minggu, 8 Februari 2026 - 18:52 WITA

Pena pisau bedah ; “Kebusukan Para penguasa”

Sabtu, 7 Februari 2026 - 18:59 WITA

Tragedi Pendidikan di Ngada dan Tanggung Jawab Negara terhadap Anak Miskin

Selasa, 23 Desember 2025 - 21:22 WITA

Natal, Nurani Sosial, dan Tanggung Jawab Kemanusiaan Menyongsong 2026

Selasa, 21 Oktober 2025 - 08:06 WITA

Ketika Ibu Melahirkan Tanpa Dokter Anestesi, Siapa yang Bertanggung Jawab?

Jumat, 17 Oktober 2025 - 12:52 WITA

Menimbang Ulang Ambisi Bapak Presiden Prabowo Terbitkan Perpres tentang Olah Sampah Jadi Energi

Berita Terbaru