Para remaja itu semula mengira korban pergi ke darat untuk buang air. Mereka memanggil-manggil namanya, tapi tak ada jawaban. Blasius kemudian menyelam dan terhenyak melihat tubuh Aprilino tak bergerak di dasar laut. “E… dia ada di sini!” teriaknya panik.
Mereka segera menarik bocah itu ke darat. Kristoforus Kurniyanto (17), kakak sepupu korban, mencoba memberikan pertolongan pertama. Dada kecilnya ditekan berkali-kali. Air dan busa keluar dari mulutnya, tapi itu saja tak cukup. Dalam kepanikan, mereka membawa tubuh lemas itu ke RS St. Gabriel Kewapante.
Terlambat, Keluarga Menolak Autopsi
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di ruang IGD, dokter jaga, dr. Diana, hanya bisa menggeleng. Aprilino telah tiada. Waktu menunjukkan pukul 15.30 WITA. Telepon pun berdering di Dusun Wegok Natar, Desa Seusina. Kabar duka diterima dengan tangis pilu oleh keluarga.
Ayah korban, yang bekerja di Kalimantan, tidak ada di rumah. Aprilino selama ini tinggal bersama ibunya. Ditinggal bekerja jauh, sang ayah kini harus menerima kenyataan pahit tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya



Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe



