RUTENG, – Pembangunan Rumah Adat Poka di Desa Longko, Kecamatan Wae Rii’i, bukan sekadar proyek fisik.
Upacara peletakan batu pertama yang digelar pada 25 Agustus 2025 itu menyimpan pesan kritis, masyarakat Manggarai tengah berjuang melawan terkikisnya identitas budaya di era modernisasi.
Ritual adat “Wisi Lo’o” membuka prosesi, sebagai bentuk permohonan restu leluhur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tokoh adat dari berbagai kampung hadir lengkap dengan pakaian tradisional, menegaskan bahwa pembangunan rumah adat adalah ruang perlawanan sekaligus pengingat jati diri.
Kepala Desa Longko, Anselmus Jebatu, menegaskan bahwa nilai tuka ngese (saling menghormati) dan kae ca (kebersamaan) harus diwariskan pada generasi muda.
“Rumah adat ini bukan sekadar dinding dan atap, tetapi simbol kehidupan bersama. Jika hilang, maka hilang pula identitas kita,” tegasnya.
Penguatan makna itu diperkuat oleh tua adat Petrus Jerudut. Kehadiran mahasiswa Unika Santu Paulus Ruteng dalam upacara ini menjadi sinyal penting, pelestarian budaya Manggarai bukan hanya urusan orang tua, tetapi tanggung jawab lintas generasi.
Halaman : 1 2 Selanjutnya


Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe




