Pengungkapan kasus di Sikka ini mengisyaratkan adanya pola yang lebih sistematis dalam distribusi narkotika. Berdasarkan hasil penyelidikan awal, narkotika yang beredar di Sikka diduga berasal dari luar Pulau Flores. Beberapa jalur yang sering digunakan antara lain melalui Surabaya, Makassar, dan Kalimantan, sebelum akhirnya masuk ke NTT melalui pelabuhan atau jalur darat.
Seorang mantan pengguna narkoba yang kini menjadi aktivis rehabilitasi mengatakan bahwa bandar-bandar besar cenderung merekrut orang-orang dari latar belakang ekonomi rendah, seperti buruh dan pekerja informal, untuk dijadikan perantara.
“Mereka (bandar) paham kalau orang-orang seperti RW—seorang buruh harian—tidak punya banyak pilihan. Dijanjikan uang besar, mereka akhirnya terjerumus. Tapi yang tertangkap selalu yang kecil-kecil, sementara jaringan besar tetap beroperasi,” jelasnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pengungkapan kasus ini menjadi peringatan bagi masyarakat Sikka bahwa ancaman narkotika bukan lagi hanya masalah kota-kota besar. Masuknya narkotika ke pelosok daerah menandakan bahwa jaringan ini sudah beroperasi dengan metode yang semakin canggih.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya



Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe




