MAUMERE, – Di tengah meningkatnya dinamika politik dan sosial, Polres Sikka memperketat upaya preventif dengan menggencarkan sosialisasi “Bijak Berpendapat, Tolak Anarkisme”.
Gerakan ini bukan sekadar himbauan moral, melainkan strategi sistematis untuk menjaga ruang publik tetap aman, tertib, dan demokratis.
Sejak 28 Agustus 2025, personel Polres Sikka menyisir wilayah hukum mereka, menyosialisasikan tata cara penyampaian pendapat di muka umum yang sesuai aturan hukum.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Langkah ini mendapat penegasan langsung dari Kapolres Sikka, AKBP Bambang Supeno, S.I.K., yang menekankan bahwa kebebasan berpendapat dijamin konstitusi, tetapi masyarakat wajib memahami batasan agar tidak terjerumus dalam aksi provokatif atau anarkis.
“Polres tidak melarang aspirasi publik. Kami hanya meminta agar semua dilakukan secara tertib, damai, dan patuh hukum,” ujar Bambang kepada liputanflores.com
Tidak hanya aksi di jalanan, perhatian khusus juga diberikan pada ruang digital. Melalui edukasi Undang-Undang ITE, Polres Sikka menekankan pentingnya literasi digital.
Penyalahgunaan media sosial untuk menyebar ujaran kebencian atau hoaks dianggap sama berbahayanya dengan anarkisme fisik.
Langkah ini relevan, mengingat eskalasi konflik sosial kerap bermula dari percikan di dunia maya sebelum meledak di lapangan.
Program sosialisasi ini mendapat sambutan positif. Tokoh agama hingga pemuda menilai pendekatan humanis-polisi perlu diperluas, agar masyarakat lebih paham bahwa menyuarakan pendapat bukan berarti bebas dari tanggung jawab hukum.
Seorang warga menuturkan, “Kami mendukung langkah Polres Sikka. Sosialisasi ini membuat kami lebih percaya diri menyampaikan aspirasi, tanpa takut situasi ricuh.”
Meski banyak pihak mendukung, sejumlah pengamat menilai pendekatan ini harus dikawal agar tidak bergeser menjadi alat kontrol berlebihan. Isu kebebasan berekspresi sering kali bersinggungan dengan praktik pembatasan kritik terhadap pemerintah.
Apakah langkah Polres Sikka ini murni edukatif atau ada potensi digunakan untuk membungkam kritik? Pertanyaan ini menjadi pekerjaan rumah bagi masyarakat sipil, media, dan lembaga pengawas demokrasi di NTT.
Dengan mengedepankan sinergi aparat dan masyarakat, Polres Sikka berusaha membangun kultur demokrasi damai di Kabupaten Sikka.
Namun, efektivitas program ini akan diuji dari konsistensi pelaksanaan di lapangan dan transparansi aparat dalam mengedepankan hukum secara adil.


Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe



