Hal itu mengingatkan kita pada kritik filsuf Yunani, Aristoteles, bahwa tujuan utama politik bukanlah kekuasaan, melainkan bonum commune—kebaikan bersama. Kekuasaan kehilangan legitimasi ketika tidak lagi menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat yang dipimpinnya.
Paradoks itu tampak jelas di Ende. Di tengah melimpahnya sumber daya manusia terdidik, masih banyak desa menghadapi jalan rusak, akses internet yang terbatas, pelayanan kesehatan yang belum memadai, kualitas pendidikan yang timpang, serta kesempatan ekonomi yang sempit. Jika kondisi seperti ini terus berlangsung, maka yang sesungguhnya gagal bukanlah rakyat, melainkan tata kelola pemerintahan.
Ekonom peraih Nobel Amartya Sen menjelaskan bahwa pembangunan bukan sekadar pertumbuhan ekonomi, melainkan perluasan kebebasan manusia (development as freedom). Pembangunan dianggap berhasil ketika masyarakat memperoleh akses terhadap pendidikan, kesehatan, pekerjaan, dan kesempatan untuk hidup secara bermartabat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dengan ukuran itu, kemerdekaan tidak cukup diukur dari banyaknya proyek fisik atau tingginya angka pertumbuhan ekonomi. Kemerdekaan harus diukur dari seberapa besar negara memperluas ruang hidup masyarakat kecil.



Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe




