Ende Tak Kekurangan Orang Pintar, Mengapa Rakyat Masih Tertinggal?

Avatar photo

- Redaksi

Jumat, 7 Agustus 2026 - 13:42 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Reporter : Niko Sanggu Editor : Redaksi Dibaca 262 Kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Niko Sanggu, Mahasiswa Universitas Nusa Nipa Maumere

Niko Sanggu, Mahasiswa Universitas Nusa Nipa Maumere

Hal itu mengingatkan kita pada kritik filsuf Yunani, Aristoteles, bahwa tujuan utama politik bukanlah kekuasaan, melainkan bonum commune—kebaikan bersama. Kekuasaan kehilangan legitimasi ketika tidak lagi menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat yang dipimpinnya.

Paradoks itu tampak jelas di Ende. Di tengah melimpahnya sumber daya manusia terdidik, masih banyak desa menghadapi jalan rusak, akses internet yang terbatas, pelayanan kesehatan yang belum memadai, kualitas pendidikan yang timpang, serta kesempatan ekonomi yang sempit. Jika kondisi seperti ini terus berlangsung, maka yang sesungguhnya gagal bukanlah rakyat, melainkan tata kelola pemerintahan.

Baca Juga :  Tragedi Pendidikan di Ngada dan Tanggung Jawab Negara terhadap Anak Miskin

Ekonom peraih Nobel Amartya Sen menjelaskan bahwa pembangunan bukan sekadar pertumbuhan ekonomi, melainkan perluasan kebebasan manusia (development as freedom). Pembangunan dianggap berhasil ketika masyarakat memperoleh akses terhadap pendidikan, kesehatan, pekerjaan, dan kesempatan untuk hidup secara bermartabat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dengan ukuran itu, kemerdekaan tidak cukup diukur dari banyaknya proyek fisik atau tingginya angka pertumbuhan ekonomi. Kemerdekaan harus diukur dari seberapa besar negara memperluas ruang hidup masyarakat kecil.

Baca Juga :  Bukan Salah Askab Ende, Rian Laka Soroti Lemahnya Komunikasi Bupati Ende soal ETMC 2025

Berita Terkait

Propinsi Kepulauan Flores, Ketika Negara Membiarkan Ketimpangan Menjadi Persoalan Menahun
Nikolaus Sanggu: Bangsa Indonesia yang dibangsatkan oleh Bangsanya Sendiri
Petani, Cadangan Pangan Dan Ketangguhan Flores Menghadapi Bencana
Dede Padama, Mahasiswa Semester I yang Belajar Memimpin dengan Hati
Jangan Sampai Rakyat Mencari Jalan Lain karena Wakilnya Tidak Hadir
Flores Tidak Menolak Energi Bersih, Flores Menolak Ketidakadilan
Jokowi Dianugerahi Gelar Adat “Raja Timur”: Simbol Penghormatan Masyarakat Adat Timor atas Jejak Pembangunan di NTT
Ulupulu 1 Menunggu Sepiring Harapan, Menguji Komitmen Makan Bergizi Gratis
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Berita Terkait

Minggu, 1 November 2026 - 07:42 WITA

Propinsi Kepulauan Flores, Ketika Negara Membiarkan Ketimpangan Menjadi Persoalan Menahun

Rabu, 19 Agustus 2026 - 14:42 WITA

Petani, Cadangan Pangan Dan Ketangguhan Flores Menghadapi Bencana

Senin, 10 Agustus 2026 - 10:36 WITA

Dede Padama, Mahasiswa Semester I yang Belajar Memimpin dengan Hati

Minggu, 9 Agustus 2026 - 09:55 WITA

Jangan Sampai Rakyat Mencari Jalan Lain karena Wakilnya Tidak Hadir

Jumat, 7 Agustus 2026 - 13:42 WITA

Ende Tak Kekurangan Orang Pintar, Mengapa Rakyat Masih Tertinggal?

Selasa, 4 Agustus 2026 - 09:34 WITA

Flores Tidak Menolak Energi Bersih, Flores Menolak Ketidakadilan

Senin, 3 Agustus 2026 - 08:24 WITA

Jokowi Dianugerahi Gelar Adat “Raja Timur”: Simbol Penghormatan Masyarakat Adat Timor atas Jejak Pembangunan di NTT

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 07:43 WITA

Ulupulu 1 Menunggu Sepiring Harapan, Menguji Komitmen Makan Bergizi Gratis

Berita Terbaru