Ende Tak Kekurangan Orang Pintar, Mengapa Rakyat Masih Tertinggal?

Avatar photo

- Redaksi

Jumat, 7 Agustus 2026 - 13:42 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Reporter : Niko Sanggu Editor : Redaksi Dibaca 261 Kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Niko Sanggu, Mahasiswa Universitas Nusa Nipa Maumere

Niko Sanggu, Mahasiswa Universitas Nusa Nipa Maumere

Oleh ; Niko Sangu, Mahasiswa Universitas Nusa Nipa Maumere

Menagih Etika Kekuasaan di Tanah Pancasila

Opini, – Setiap Agustus, bangsa ini kembali larut dalam perayaan kemerdekaan. Bendera dikibarkan, lagu kebangsaan dinyanyikan, dan berbagai seremoni digelar dengan penuh semangat. Namun, kemerdekaan tidak boleh berhenti sebagai ritual tahunan. Ia harus menjadi ruang refleksi untuk mengukur sejauh mana negara benar-benar hadir menghadirkan keadilan bagi rakyatnya.

Bagi Kabupaten Ende, makna refleksi itu jauh lebih dalam. Di kota inilah Bung Karno mengasingkan diri sekaligus merumuskan nilai-nilai yang kemudian menjadi fondasi Pancasila. Karena itu, Ende bukan sekadar wilayah administratif, melainkan ruang sejarah yang menyimpan tanggung jawab moral terhadap cita-cita bangsa.

Baca Juga :  Jangan Sampai Rakyat Mencari Jalan Lain karena Wakilnya Tidak Hadir

Ironisnya, di tanah yang melahirkan gagasan besar tentang keadilan sosial ini, pertanyaan mendasar justru terus mengemuka: mengapa rakyat masih bergulat dengan kemiskinan, ketimpangan, dan keterbelakangan?

Ende tidak pernah kekurangan orang pintar. Daerah ini memiliki banyak sarjana, akademisi, birokrat, teknokrat, maupun tokoh masyarakat yang berpendidikan tinggi. Namun, kecerdasan intelektual ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas kebijakan publik.

Baca Juga :  Ketika Dapur Kupang Tercekik Gas, Alarm Keras Kemandirian Energi NTT

Berita Terkait

Propinsi Kepulauan Flores, Ketika Negara Membiarkan Ketimpangan Menjadi Persoalan Menahun
Nikolaus Sanggu: Bangsa Indonesia yang dibangsatkan oleh Bangsanya Sendiri
Petani, Cadangan Pangan Dan Ketangguhan Flores Menghadapi Bencana
Dede Padama, Mahasiswa Semester I yang Belajar Memimpin dengan Hati
Jangan Sampai Rakyat Mencari Jalan Lain karena Wakilnya Tidak Hadir
Flores Tidak Menolak Energi Bersih, Flores Menolak Ketidakadilan
Jokowi Dianugerahi Gelar Adat “Raja Timur”: Simbol Penghormatan Masyarakat Adat Timor atas Jejak Pembangunan di NTT
Ulupulu 1 Menunggu Sepiring Harapan, Menguji Komitmen Makan Bergizi Gratis
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Berita Terkait

Minggu, 1 November 2026 - 07:42 WITA

Propinsi Kepulauan Flores, Ketika Negara Membiarkan Ketimpangan Menjadi Persoalan Menahun

Rabu, 19 Agustus 2026 - 14:42 WITA

Petani, Cadangan Pangan Dan Ketangguhan Flores Menghadapi Bencana

Senin, 10 Agustus 2026 - 10:36 WITA

Dede Padama, Mahasiswa Semester I yang Belajar Memimpin dengan Hati

Minggu, 9 Agustus 2026 - 09:55 WITA

Jangan Sampai Rakyat Mencari Jalan Lain karena Wakilnya Tidak Hadir

Jumat, 7 Agustus 2026 - 13:42 WITA

Ende Tak Kekurangan Orang Pintar, Mengapa Rakyat Masih Tertinggal?

Selasa, 4 Agustus 2026 - 09:34 WITA

Flores Tidak Menolak Energi Bersih, Flores Menolak Ketidakadilan

Senin, 3 Agustus 2026 - 08:24 WITA

Jokowi Dianugerahi Gelar Adat “Raja Timur”: Simbol Penghormatan Masyarakat Adat Timor atas Jejak Pembangunan di NTT

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 07:43 WITA

Ulupulu 1 Menunggu Sepiring Harapan, Menguji Komitmen Makan Bergizi Gratis

Berita Terbaru