Flores Tidak Menolak Energi Bersih, Flores Menolak Ketidakadilan

Avatar photo

- Redaksi

Selasa, 4 Agustus 2026 - 09:34 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Reporter : V. Maksi Mari Editor : Redaksi Dibaca 576 Kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

V. Maximus Mari
(Anggota Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Pastoral Migran Perantau Keuskupan 
Agung Ende)

V. Maximus Mari (Anggota Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Pastoral Migran Perantau Keuskupan Agung Ende)

Opini Oleh : V. Maximus Mari
(Anggota Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Pastoral Migran Perantau Keuskupan
Agung Ende)

“Ketika Ambisi Transisi Energi Nasional Berhadapan dengan Hak Hidup
Masyarakat”

Dunia sedang berpacu menghadapi perubahan iklim. Hampir seluruh negara
berkomitmen mengurangi emisi gas rumah kaca melalui transisi dari energi fosil menuju energi baru dan terbarukan. Indonesia pun mengambil bagian dalam agenda global tersebut dengan menargetkan pencapaian Net Zero Emission pada 2060 atau lebih cepat. Dalam kerangka itu, panas bumi (geothermal) ditempatkan sebagai salah satu pilar utama transisi energi nasional.

Pilihan tersebut bukan tanpa alasan. Indonesia memiliki potensi panas bumi sekitar 23.700 MW yang tersebar di lebih dari 330 titik prospek, terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat. Namun hingga kini kapasitas terpasang baru sekitar 2.744 MW, atau sekitar sebelas persen dari total potensi. Melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034, pemerintah menargetkan kapasitas panas bumi mencapai sekitar 5,2 GW pada 2030. Ambisi ini menunjukkan bahwa geothermal dipandang sebagai instrumen strategis untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus menurunkan emisi karbon.

Baca Juga :  Misa dan Dialog Bersama Uskup Agung Ende Mgr Paulus Budi Kleden Digelar di Malang

Berita Terkait

Propinsi Kepulauan Flores, Ketika Negara Membiarkan Ketimpangan Menjadi Persoalan Menahun
Nikolaus Sanggu: Bangsa Indonesia yang dibangsatkan oleh Bangsanya Sendiri
Petani, Cadangan Pangan Dan Ketangguhan Flores Menghadapi Bencana
Dede Padama, Mahasiswa Semester I yang Belajar Memimpin dengan Hati
Jangan Sampai Rakyat Mencari Jalan Lain karena Wakilnya Tidak Hadir
Ende Tak Kekurangan Orang Pintar, Mengapa Rakyat Masih Tertinggal?
Jokowi Dianugerahi Gelar Adat “Raja Timur”: Simbol Penghormatan Masyarakat Adat Timor atas Jejak Pembangunan di NTT
Ulupulu 1 Menunggu Sepiring Harapan, Menguji Komitmen Makan Bergizi Gratis
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Berita Terkait

Minggu, 1 November 2026 - 07:42 WITA

Propinsi Kepulauan Flores, Ketika Negara Membiarkan Ketimpangan Menjadi Persoalan Menahun

Rabu, 19 Agustus 2026 - 14:42 WITA

Petani, Cadangan Pangan Dan Ketangguhan Flores Menghadapi Bencana

Senin, 10 Agustus 2026 - 10:36 WITA

Dede Padama, Mahasiswa Semester I yang Belajar Memimpin dengan Hati

Minggu, 9 Agustus 2026 - 09:55 WITA

Jangan Sampai Rakyat Mencari Jalan Lain karena Wakilnya Tidak Hadir

Jumat, 7 Agustus 2026 - 13:42 WITA

Ende Tak Kekurangan Orang Pintar, Mengapa Rakyat Masih Tertinggal?

Selasa, 4 Agustus 2026 - 09:34 WITA

Flores Tidak Menolak Energi Bersih, Flores Menolak Ketidakadilan

Senin, 3 Agustus 2026 - 08:24 WITA

Jokowi Dianugerahi Gelar Adat “Raja Timur”: Simbol Penghormatan Masyarakat Adat Timor atas Jejak Pembangunan di NTT

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 07:43 WITA

Ulupulu 1 Menunggu Sepiring Harapan, Menguji Komitmen Makan Bergizi Gratis

Berita Terbaru