Flores Tidak Menolak Energi Bersih, Flores Menolak Ketidakadilan

Avatar photo

- Redaksi

Selasa, 4 Agustus 2026 - 09:34 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Reporter : V. Maksi Mari Editor : Redaksi Dibaca 591 Kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

V. Maximus Mari
(Anggota Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Pastoral Migran Perantau Keuskupan 
Agung Ende)

V. Maximus Mari (Anggota Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Pastoral Migran Perantau Keuskupan Agung Ende)

Flores tidak sedang menolak energi bersih. Flores sedang mengingatkan Indonesia
bahwa energi yang benar-benar bersih adalah energi yang dibangun di atas keadilan. Transisi energi yang mengorbankan masyarakat lokal hanya akan melahirkan bentuk baru dari ketidakadilan ekologis. Sebaliknya, transisi energi yang menghormati martabat manusia, melindungi lingkungan, mendengarkan suara masyarakat, serta membuka ruang bagi berbagai pilihan teknologi yang sesuai dengan karakter wilayah akan menjadi warisan terbaik bagi generasi mendatang.

Baca Juga :  Siswa Kelas 10 SMAK Frateran Surabaya Gelar Outdoor Study di Dusun Sahabat Alam, Pacet

Bangsa yang besar bukan hanya mampu membangun pembangkit listrik. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu memastikan bahwa setiap megawatt energi yang dihasilkan tidak dibayar dengan hilangnya tanah, air, budaya, dan harapan rakyatnya. Sebab listrik memang dapat menerangi rumah-rumah, tetapi hanya keadilan yang mampu menerangi masa depan. Itulah makna sejati transisi energi yang berkeadilan: membangun Indonesia yang rendah karbon tanpa meninggalkan manusia dan bumi sebagai rumah bersama

Baca Juga :  Jokowi Dianugerahi Gelar Adat "Raja Timur": Simbol Penghormatan Masyarakat Adat Timor atas Jejak Pembangunan di NTT

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berita Terkait

Propinsi Kepulauan Flores, Ketika Negara Membiarkan Ketimpangan Menjadi Persoalan Menahun
Nikolaus Sanggu: Bangsa Indonesia yang dibangsatkan oleh Bangsanya Sendiri
Petani, Cadangan Pangan Dan Ketangguhan Flores Menghadapi Bencana
Dede Padama, Mahasiswa Semester I yang Belajar Memimpin dengan Hati
Jangan Sampai Rakyat Mencari Jalan Lain karena Wakilnya Tidak Hadir
Ende Tak Kekurangan Orang Pintar, Mengapa Rakyat Masih Tertinggal?
Jokowi Dianugerahi Gelar Adat “Raja Timur”: Simbol Penghormatan Masyarakat Adat Timor atas Jejak Pembangunan di NTT
Ulupulu 1 Menunggu Sepiring Harapan, Menguji Komitmen Makan Bergizi Gratis
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Berita Terkait

Minggu, 1 November 2026 - 07:42 WITA

Propinsi Kepulauan Flores, Ketika Negara Membiarkan Ketimpangan Menjadi Persoalan Menahun

Rabu, 19 Agustus 2026 - 14:42 WITA

Petani, Cadangan Pangan Dan Ketangguhan Flores Menghadapi Bencana

Senin, 10 Agustus 2026 - 10:36 WITA

Dede Padama, Mahasiswa Semester I yang Belajar Memimpin dengan Hati

Minggu, 9 Agustus 2026 - 09:55 WITA

Jangan Sampai Rakyat Mencari Jalan Lain karena Wakilnya Tidak Hadir

Jumat, 7 Agustus 2026 - 13:42 WITA

Ende Tak Kekurangan Orang Pintar, Mengapa Rakyat Masih Tertinggal?

Selasa, 4 Agustus 2026 - 09:34 WITA

Flores Tidak Menolak Energi Bersih, Flores Menolak Ketidakadilan

Senin, 3 Agustus 2026 - 08:24 WITA

Jokowi Dianugerahi Gelar Adat “Raja Timur”: Simbol Penghormatan Masyarakat Adat Timor atas Jejak Pembangunan di NTT

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 07:43 WITA

Ulupulu 1 Menunggu Sepiring Harapan, Menguji Komitmen Makan Bergizi Gratis

Berita Terbaru