Flores Tidak Menolak Energi Bersih, Flores Menolak Ketidakadilan

Avatar photo

- Redaksi

Selasa, 4 Agustus 2026 - 09:34 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Reporter : V. Maksi Mari Editor : Redaksi Dibaca 122 Kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

V. Maximus Mari
(Anggota Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Pastoral Migran Perantau Keuskupan 
Agung Ende)

V. Maximus Mari (Anggota Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Pastoral Migran Perantau Keuskupan Agung Ende)

Kekhawatiran masyarakat semakin besar karena persoalan air. Kajian Lingkungan
Hidup Strategis Nusa Tenggara Timur menunjukkan bahwa sebagian wilayah
Kabupaten Ende, Ngada, dan Nagekeo telah mengalami tekanan terhadap daya
dukung air. Curah hujan di sejumlah kawasan relatif rendah dengan musim kemarau yang dapat berlangsung delapan hingga sepuluh bulan setiap tahun. Dalam kondisi demikian, air menjadi sumber daya yang sangat menentukan keberhasilan pertanian sekaligus kehidupan sehari-hari masyarakat.

Baca Juga :  Penolakan Proyek Geothermal di Flores Kian Menguat, FKKF Sebut Rakyat Selalu Jadi Korban

Oleh sebab itu, kekhawatiran masyarakat terhadap kemungkinan terganggunyasumber-sumber air akibat aktivitas eksplorasi dan eksploitasi geothermal tidak dapat dianggap sebagai ketakutan yang berlebihan. Prinsip kehati-hatian (precautionart principle) dalam pengelolaan lingkungan justru mengajarkan bahwa setiap proyek yang berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap ekosistem harus dikaji secara menyeluruh sebelum dilaksanakan.

Kekhawatiran tersebut juga tidak lahir dari ruang kosong. Flores memiliki pengalaman
yang hingga kini masih membentuk memori kolektif masyarakat, yakni proyek
geothermal di Mataloko. Terlepas dari berbagai penjelasan teknis yang diberikan
pemerintah dan pengembang, pengalaman di kawasan tersebut telah memunculkan
pertanyaan mengenai efektivitas mitigasi risiko serta perlindungan terhadap
masyarakat. Dalam kebijakan publik, kepercayaan masyarakat merupakan modal
utama keberhasilan pembangunan. Ketika kepercayaan itu melemah, penolakan yang
muncul bukan lagi sekadar persoalan komunikasi, melainkan persoalan legitimasi
kebijakan.

Berita Terkait

Jokowi Dianugerahi Gelar Adat “Raja Timur”: Simbol Penghormatan Masyarakat Adat Timor atas Jejak Pembangunan di NTT
Ulupulu 1 Menunggu Sepiring Harapan, Menguji Komitmen Makan Bergizi Gratis
May Day 1 Mei 2026, Alarm Tahunan tentang Keadilan Sosial dan Martabat Pekerja
Menanti Kebangkitan Sepak Bola NTT Lewat Piala Gubernur Liga 4 ETMC 2026 di Flores Timur
Menakar Nalar Lonn Segi ; Antara Kritik Intelektual dan Drama Privasi
Ulasan Lonn Segi Tak Sepanjang Gelarnya
Ketika Dapur Kupang Tercekik Gas, Alarm Keras Kemandirian Energi NTT
Pena pisau bedah ; “Kebusukan Para penguasa”
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Berita Terkait

Selasa, 4 Agustus 2026 - 09:34 WITA

Flores Tidak Menolak Energi Bersih, Flores Menolak Ketidakadilan

Senin, 3 Agustus 2026 - 08:24 WITA

Jokowi Dianugerahi Gelar Adat “Raja Timur”: Simbol Penghormatan Masyarakat Adat Timor atas Jejak Pembangunan di NTT

Kamis, 30 April 2026 - 20:23 WITA

May Day 1 Mei 2026, Alarm Tahunan tentang Keadilan Sosial dan Martabat Pekerja

Selasa, 14 April 2026 - 13:11 WITA

Menanti Kebangkitan Sepak Bola NTT Lewat Piala Gubernur Liga 4 ETMC 2026 di Flores Timur

Rabu, 1 April 2026 - 07:59 WITA

Menakar Nalar Lonn Segi ; Antara Kritik Intelektual dan Drama Privasi

Selasa, 31 Maret 2026 - 23:23 WITA

Ulasan Lonn Segi Tak Sepanjang Gelarnya

Rabu, 11 Maret 2026 - 19:02 WITA

Ketika Dapur Kupang Tercekik Gas, Alarm Keras Kemandirian Energi NTT

Minggu, 8 Februari 2026 - 18:52 WITA

Pena pisau bedah ; “Kebusukan Para penguasa”

Berita Terbaru