Di sinilah muncul pertanyaan mendasar: apakah semua energi terbarukan
otomatis dapat disebut sebagai pembangunan yang berkelanjutan?
Jawabannya tentu tidak sesederhana itu.
Energi dapat dikategorikan bersih dari sisi emisi karbon, tetapi belum tentu bersih dari
sisi keadilan sosial dan ekologis. Sebuah pembangkit listrik mungkin berhasil
mengurangi penggunaan batu bara, tetapi apabila proses pembangunannya
menghilangkan lahan pertanian, mengancam sumber air, memicu konflik sosial, atau mengikis identitas budaya masyarakat lokal, maka pembangunan tersebut menciptakan
persoalan baru yang tidak kalah serius dibandingkan persoalan yang hendak
diselesaikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kesadaran inilah yang kemudian melahirkan konsep Just Energy Transition atau Transisi Energi yang Adil. Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), Perserikatan Bangsa-Bangsa, OECD, hingga forum G20 menegaskan bahwa transisi energi tidak boleh hanya mengejar penurunan emisi karbon. Transisi energi harus memastikan bahwa manfaat pembangunan dinikmati secara adil, hak masyarakat dihormati, lingkungan terlindungi, dan tidak ada komunitas yang dikorbankan atas nama pembangunan.
Halaman : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Selanjutnya



Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe




