Flores Tidak Menolak Energi Bersih, Flores Menolak Ketidakadilan

Avatar photo

- Redaksi

Selasa, 4 Agustus 2026 - 09:34 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Reporter : V. Maksi Mari Editor : Redaksi Dibaca 125 Kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

V. Maximus Mari
(Anggota Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Pastoral Migran Perantau Keuskupan 
Agung Ende)

V. Maximus Mari (Anggota Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Pastoral Migran Perantau Keuskupan Agung Ende)

Perdebatan mengenai geothermal di Flores pada akhirnya tidak lagi berkisar pada
persoalan teknis pembangkitan listrik. Yang sedang dipertaruhkan adalah bagaimana
negara memaknai pembangunan itu sendiri. Apakah pembangunan cukup diukur dari
besarnya investasi dan jumlah megawatt listrik yang dihasilkan, ataukah pembangunan juga harus diukur dari kemampuannya melindungi kehidupan masyarakat yang menjadi
tuan rumah proyek tersebut?

Baca Juga :  Tragedi Kematian Prada Lucky Namo, Aksi 1000 Lilin, Evaluasi TNI, dan Tuntutan Keadilan

Pertanyaan inilah yang mengemuka dalam berbagai ruang dialog, termasuk dalam
diskusi publik di Ledalero yang mempertemukan masyarakat, akademisi, tokoh agama, dan perwakilan pemerintah. Dalam forum tersebut muncul sejumlah pertanyaan mendasar yang hingga kini belum memperoleh jawaban yang benar-benar mampumembangun kepercayaan publik.

Pertanyaan pertama menyangkut arah kebijakan pemerintah. Mengapa proyek
geothermal di Flores tetap didorong begitu kuat, sementara penolakan masyarakat
berlangsung secara luas, terbuka, dan konsisten? Dalam negara demokrasi,
keberhasilan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh terpenuhinya prosedur
administratif, tetapi juga oleh legitimasi sosial. Ketika masyarakat adat, petani, tokoh agama, akademisi, pemerintah desa, dan berbagai elemen masyarakat menyampaikan keberatan yang sama, negara semestinya tidak hanya menjelaskan manfaat proyek, tetapi juga bersedia mengevaluasi apakah pendekatan yang ditempuh benar-benar telah menghormati aspirasi masyarakat.

Berita Terkait

Jokowi Dianugerahi Gelar Adat “Raja Timur”: Simbol Penghormatan Masyarakat Adat Timor atas Jejak Pembangunan di NTT
Ulupulu 1 Menunggu Sepiring Harapan, Menguji Komitmen Makan Bergizi Gratis
May Day 1 Mei 2026, Alarm Tahunan tentang Keadilan Sosial dan Martabat Pekerja
Menanti Kebangkitan Sepak Bola NTT Lewat Piala Gubernur Liga 4 ETMC 2026 di Flores Timur
Menakar Nalar Lonn Segi ; Antara Kritik Intelektual dan Drama Privasi
Ulasan Lonn Segi Tak Sepanjang Gelarnya
Ketika Dapur Kupang Tercekik Gas, Alarm Keras Kemandirian Energi NTT
Pena pisau bedah ; “Kebusukan Para penguasa”
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Berita Terkait

Selasa, 4 Agustus 2026 - 09:34 WITA

Flores Tidak Menolak Energi Bersih, Flores Menolak Ketidakadilan

Senin, 3 Agustus 2026 - 08:24 WITA

Jokowi Dianugerahi Gelar Adat “Raja Timur”: Simbol Penghormatan Masyarakat Adat Timor atas Jejak Pembangunan di NTT

Kamis, 30 April 2026 - 20:23 WITA

May Day 1 Mei 2026, Alarm Tahunan tentang Keadilan Sosial dan Martabat Pekerja

Selasa, 14 April 2026 - 13:11 WITA

Menanti Kebangkitan Sepak Bola NTT Lewat Piala Gubernur Liga 4 ETMC 2026 di Flores Timur

Rabu, 1 April 2026 - 07:59 WITA

Menakar Nalar Lonn Segi ; Antara Kritik Intelektual dan Drama Privasi

Selasa, 31 Maret 2026 - 23:23 WITA

Ulasan Lonn Segi Tak Sepanjang Gelarnya

Rabu, 11 Maret 2026 - 19:02 WITA

Ketika Dapur Kupang Tercekik Gas, Alarm Keras Kemandirian Energi NTT

Minggu, 8 Februari 2026 - 18:52 WITA

Pena pisau bedah ; “Kebusukan Para penguasa”

Berita Terbaru