Perdebatan mengenai geothermal di Flores pada akhirnya tidak lagi berkisar pada
persoalan teknis pembangkitan listrik. Yang sedang dipertaruhkan adalah bagaimana
negara memaknai pembangunan itu sendiri. Apakah pembangunan cukup diukur dari
besarnya investasi dan jumlah megawatt listrik yang dihasilkan, ataukah pembangunan juga harus diukur dari kemampuannya melindungi kehidupan masyarakat yang menjadi
tuan rumah proyek tersebut?
Pertanyaan inilah yang mengemuka dalam berbagai ruang dialog, termasuk dalam
diskusi publik di Ledalero yang mempertemukan masyarakat, akademisi, tokoh agama, dan perwakilan pemerintah. Dalam forum tersebut muncul sejumlah pertanyaan mendasar yang hingga kini belum memperoleh jawaban yang benar-benar mampumembangun kepercayaan publik.
Pertanyaan pertama menyangkut arah kebijakan pemerintah. Mengapa proyek
geothermal di Flores tetap didorong begitu kuat, sementara penolakan masyarakat
berlangsung secara luas, terbuka, dan konsisten? Dalam negara demokrasi,
keberhasilan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh terpenuhinya prosedur
administratif, tetapi juga oleh legitimasi sosial. Ketika masyarakat adat, petani, tokoh agama, akademisi, pemerintah desa, dan berbagai elemen masyarakat menyampaikan keberatan yang sama, negara semestinya tidak hanya menjelaskan manfaat proyek, tetapi juga bersedia mengevaluasi apakah pendekatan yang ditempuh benar-benar telah menghormati aspirasi masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Halaman : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Selanjutnya



Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe




