Flores Tidak Menolak Energi Bersih, Flores Menolak Ketidakadilan

Avatar photo

- Redaksi

Selasa, 4 Agustus 2026 - 09:34 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Reporter : V. Maksi Mari Editor : Redaksi Dibaca 588 Kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

V. Maximus Mari
(Anggota Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Pastoral Migran Perantau Keuskupan 
Agung Ende)

V. Maximus Mari (Anggota Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Pastoral Migran Perantau Keuskupan Agung Ende)

Pertanyaan seperti ini tidak seharusnya dipandang sebagai bentuk perlawanan
terhadap negara. Sebaliknya, ia merupakan pengingat bahwa tujuan akhir
pembangunan sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945
adalah sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Kemakmuran itu tidak hanya berarti
bertambahnya kapasitas pembangkit listrik nasional, tetapi juga meningkatnya kualitas
hidup masyarakat yang hidup di sekitar proyek pembangunan.

Baca Juga :  Pengembangan Geothermal di Flores, Mencari Titik Temu untuk Kepentingan Bersama

Pertanyaan ketiga menyangkut pilihan teknologi energi. Dalam berbagai
kesempatan masyarakat memperoleh penjelasan bahwa alternatif selain geothermal seperti tenaga surya, tenaga angin, mikrohidro, biomassa, maupun energi arus laut memerlukan biaya investasi yang lebih tinggi sehingga dianggap kurang ekonomis. Argumen tersebut memang layak dipertimbangkan dari sudut pandang efisiensi fiskal. Namun pembangunan tidak dapat dihitung semata-mata dengan logika biaya investasi.

Baca Juga :  Korban dan Pelaku Kini Berada Dalam Satu Kubu

Indonesia adalah negara yang mampu mengalokasikan anggaran sangat besar untuk berbagai program prioritas nasional ketika dipandang penting bagi kepentingan publik. Negara membangun jalan tol, pelabuhan, bendungan, bandar udara, kawasan industri, serta berbagai infrastruktur strategis dengan nilai investasi yang mencapai triliunan rupiah. Ketika negara menilai suatu program penting, keterbatasan biaya bukanlah
alasan untuk menghentikannya.

Berita Terkait

Propinsi Kepulauan Flores, Ketika Negara Membiarkan Ketimpangan Menjadi Persoalan Menahun
Nikolaus Sanggu: Bangsa Indonesia yang dibangsatkan oleh Bangsanya Sendiri
Petani, Cadangan Pangan Dan Ketangguhan Flores Menghadapi Bencana
Dede Padama, Mahasiswa Semester I yang Belajar Memimpin dengan Hati
Jangan Sampai Rakyat Mencari Jalan Lain karena Wakilnya Tidak Hadir
Ende Tak Kekurangan Orang Pintar, Mengapa Rakyat Masih Tertinggal?
Jokowi Dianugerahi Gelar Adat “Raja Timur”: Simbol Penghormatan Masyarakat Adat Timor atas Jejak Pembangunan di NTT
Ulupulu 1 Menunggu Sepiring Harapan, Menguji Komitmen Makan Bergizi Gratis
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Berita Terkait

Minggu, 1 November 2026 - 07:42 WITA

Propinsi Kepulauan Flores, Ketika Negara Membiarkan Ketimpangan Menjadi Persoalan Menahun

Rabu, 19 Agustus 2026 - 14:42 WITA

Petani, Cadangan Pangan Dan Ketangguhan Flores Menghadapi Bencana

Senin, 10 Agustus 2026 - 10:36 WITA

Dede Padama, Mahasiswa Semester I yang Belajar Memimpin dengan Hati

Minggu, 9 Agustus 2026 - 09:55 WITA

Jangan Sampai Rakyat Mencari Jalan Lain karena Wakilnya Tidak Hadir

Jumat, 7 Agustus 2026 - 13:42 WITA

Ende Tak Kekurangan Orang Pintar, Mengapa Rakyat Masih Tertinggal?

Selasa, 4 Agustus 2026 - 09:34 WITA

Flores Tidak Menolak Energi Bersih, Flores Menolak Ketidakadilan

Senin, 3 Agustus 2026 - 08:24 WITA

Jokowi Dianugerahi Gelar Adat “Raja Timur”: Simbol Penghormatan Masyarakat Adat Timor atas Jejak Pembangunan di NTT

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 07:43 WITA

Ulupulu 1 Menunggu Sepiring Harapan, Menguji Komitmen Makan Bergizi Gratis

Berita Terbaru