Flores Tidak Menolak Energi Bersih, Flores Menolak Ketidakadilan

Avatar photo

- Redaksi

Selasa, 4 Agustus 2026 - 09:34 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Reporter : V. Maksi Mari Editor : Redaksi Dibaca 46 Kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

V. Maximus Mari
(Anggota Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Pastoral Migran Perantau Keuskupan 
Agung Ende)

V. Maximus Mari (Anggota Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Pastoral Migran Perantau Keuskupan Agung Ende)

Ketika pemerintah memandang Flores sebagai kawasan strategis penghasil energi,
masyarakat memandang tanah sebagai warisan leluhur, mata air sebagai sumber
kehidupan, hutan sebagai penyangga keseimbangan ekologis, dan lahan pertanian sebagai penjamin keberlangsungan keluarga mereka. Perbedaan cara pandang inilah
yang kemudian melahirkan penolakan di berbagai wilayah Flores.

Sayangnya, penolakan tersebut sering disederhanakan sebagai sikap anti-investasi,
anti-pembangunan, bahkan anti-kemajuan. Pandangan demikian bukan saja keliru,
tetapi juga mengabaikan substansi persoalan. Masyarakat Flores tidak menolak energi terbarukan. Mereka tidak menolak listrik. Mereka juga tidak menolak pembangunan. Yang dipersoalkan adalah model pembangunan yang dinilai mengorbankan ruang hidup masyarakat demi memenuhi target pembangunan nasional.

Baca Juga :  Dugaan Mafia BBM Bersubsidi di Manggarai Barat, KP-GRD Desak Kapolri Evaluasi Kapolda NTT dan Kapolres

Sikap tersebut memperoleh legitimasi moral ketika enam uskup di Provinsi Gerejawi
Ende menyatakan penolakan terhadap pengembangan geothermal di Flores. Uskup
Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, menegaskan bahwa Gereja tidak menolak
energi terbarukan, tetapi menolak pilihan pembangunan yang berpotensi mengancam
tanah, sumber air, pertanian, budaya, dan kehidupan masyarakat. Pernyataan itu
menunjukkan bahwa persoalan geothermal telah melampaui isu teknis pembangkitan
listrik. Ia telah berubah menjadi persoalan etika pembangunan, keadilan sosial, dan
perlindungan terhadap ruang hidup masyarakat.

Berita Terkait

Jokowi Dianugerahi Gelar Adat “Raja Timur”: Simbol Penghormatan Masyarakat Adat Timor atas Jejak Pembangunan di NTT
Ulupulu 1 Menunggu Sepiring Harapan, Menguji Komitmen Makan Bergizi Gratis
May Day 1 Mei 2026, Alarm Tahunan tentang Keadilan Sosial dan Martabat Pekerja
Menanti Kebangkitan Sepak Bola NTT Lewat Piala Gubernur Liga 4 ETMC 2026 di Flores Timur
Menakar Nalar Lonn Segi ; Antara Kritik Intelektual dan Drama Privasi
Ulasan Lonn Segi Tak Sepanjang Gelarnya
Ketika Dapur Kupang Tercekik Gas, Alarm Keras Kemandirian Energi NTT
Pena pisau bedah ; “Kebusukan Para penguasa”
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Berita Terkait

Selasa, 4 Agustus 2026 - 09:34 WITA

Flores Tidak Menolak Energi Bersih, Flores Menolak Ketidakadilan

Senin, 3 Agustus 2026 - 08:24 WITA

Jokowi Dianugerahi Gelar Adat “Raja Timur”: Simbol Penghormatan Masyarakat Adat Timor atas Jejak Pembangunan di NTT

Kamis, 30 April 2026 - 20:23 WITA

May Day 1 Mei 2026, Alarm Tahunan tentang Keadilan Sosial dan Martabat Pekerja

Selasa, 14 April 2026 - 13:11 WITA

Menanti Kebangkitan Sepak Bola NTT Lewat Piala Gubernur Liga 4 ETMC 2026 di Flores Timur

Rabu, 1 April 2026 - 07:59 WITA

Menakar Nalar Lonn Segi ; Antara Kritik Intelektual dan Drama Privasi

Selasa, 31 Maret 2026 - 23:23 WITA

Ulasan Lonn Segi Tak Sepanjang Gelarnya

Rabu, 11 Maret 2026 - 19:02 WITA

Ketika Dapur Kupang Tercekik Gas, Alarm Keras Kemandirian Energi NTT

Minggu, 8 Februari 2026 - 18:52 WITA

Pena pisau bedah ; “Kebusukan Para penguasa”

Berita Terbaru