Flores Tidak Menolak Energi Bersih, Flores Menolak Ketidakadilan

Avatar photo

- Redaksi

Selasa, 4 Agustus 2026 - 09:34 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Reporter : V. Maksi Mari Editor : Redaksi Dibaca 577 Kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

V. Maximus Mari
(Anggota Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Pastoral Migran Perantau Keuskupan 
Agung Ende)

V. Maximus Mari (Anggota Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Pastoral Migran Perantau Keuskupan Agung Ende)

Pertanyaan tersebut bukan lahir dari sikap anti-negara ataupun anti-pembangunan.
Sebaliknya, ia merupakan bagian dari tanggung jawab warga negara untuk memastikan bahwa setiap kebijakan publik dibangun atas dasar transparansi, partisipasi, dan penghormatan terhadap hak-hak konstitusional masyarakat. Pemerintah yang kuat bukanlah pemerintah yang mampu memaksakan proyek, melainkan pemerintah yang
mampu membangun kepercayaan melalui dialog yang jujur, terbuka, dan setara.

Baca Juga :  Korban dan Pelaku Kini Berada Dalam Satu Kubu

Pertanyaan kedua jauh lebih mendasar: untuk siapa sesungguhnya proyek
geothermal ini dibangun?

Pemerintah menjelaskan bahwa pengembangan geothermal merupakan bagian dari strategi nasional memperkuat ketahanan energi sekaligus mendukung target penurunan emisi karbon. Tujuan tersebut tentu patut dihargai. Akan tetapi, pembangunan yang disebut strategis tidak boleh menghasilkan paradoks ketika manfaatnya dinikmati secara nasional, sementara beban ekologis, sosial, dan budaya justru dipikul oleh
masyarakat lokal.

Apabila masyarakat harus kehilangan sebagian ruang hidupnya, menghadapi ancaman terhadap sumber air, menanggung risiko perubahan bentang alam, serta mengalami transformasi sosial yang tidak mereka kehendaki, maka pertanyaan mengenai keadilan menjadi tidak dapat dihindari. Apakah masyarakat Flores benar-benar menjadi subjek pembangunan, ataukah hanya menjadi lokasi pembangunan?

Baca Juga :  Disorot Medsos, Bupati Lembata Tinjau Langsung Kondisi MIS Jihadul Akbar Tamalhaur

Berita Terkait

Propinsi Kepulauan Flores, Ketika Negara Membiarkan Ketimpangan Menjadi Persoalan Menahun
Nikolaus Sanggu: Bangsa Indonesia yang dibangsatkan oleh Bangsanya Sendiri
Petani, Cadangan Pangan Dan Ketangguhan Flores Menghadapi Bencana
Dede Padama, Mahasiswa Semester I yang Belajar Memimpin dengan Hati
Jangan Sampai Rakyat Mencari Jalan Lain karena Wakilnya Tidak Hadir
Ende Tak Kekurangan Orang Pintar, Mengapa Rakyat Masih Tertinggal?
Jokowi Dianugerahi Gelar Adat “Raja Timur”: Simbol Penghormatan Masyarakat Adat Timor atas Jejak Pembangunan di NTT
Ulupulu 1 Menunggu Sepiring Harapan, Menguji Komitmen Makan Bergizi Gratis
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Berita Terkait

Minggu, 1 November 2026 - 07:42 WITA

Propinsi Kepulauan Flores, Ketika Negara Membiarkan Ketimpangan Menjadi Persoalan Menahun

Rabu, 19 Agustus 2026 - 14:42 WITA

Petani, Cadangan Pangan Dan Ketangguhan Flores Menghadapi Bencana

Senin, 10 Agustus 2026 - 10:36 WITA

Dede Padama, Mahasiswa Semester I yang Belajar Memimpin dengan Hati

Minggu, 9 Agustus 2026 - 09:55 WITA

Jangan Sampai Rakyat Mencari Jalan Lain karena Wakilnya Tidak Hadir

Jumat, 7 Agustus 2026 - 13:42 WITA

Ende Tak Kekurangan Orang Pintar, Mengapa Rakyat Masih Tertinggal?

Selasa, 4 Agustus 2026 - 09:34 WITA

Flores Tidak Menolak Energi Bersih, Flores Menolak Ketidakadilan

Senin, 3 Agustus 2026 - 08:24 WITA

Jokowi Dianugerahi Gelar Adat “Raja Timur”: Simbol Penghormatan Masyarakat Adat Timor atas Jejak Pembangunan di NTT

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 07:43 WITA

Ulupulu 1 Menunggu Sepiring Harapan, Menguji Komitmen Makan Bergizi Gratis

Berita Terbaru