Jokowi Dianugerahi Gelar Adat “Raja Timur”: Simbol Penghormatan Masyarakat Adat Timor atas Jejak Pembangunan di NTT

Avatar photo

- Redaksi

Senin, 3 Agustus 2026 - 08:24 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Reporter : Dr. Ir. Karolus Karni Lando, MBA Editor : Redaksi Dibaca 214 Kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dr. Ir. Karolus Karni Lando, MBA

Dr. Ir. Karolus Karni Lando, MBA

Oleh ; Dr. Ir Karolus Karni Lando, MBA

Opini, – Penganugerahan gelar adat “Raja Timur” kepada Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, merupakan sebuah peristiwa yang sarat makna. Di tengah keberagaman budaya yang hidup di Pulau Timor, penghormatan tersebut tidak sekadar menjadi seremoni adat, melainkan mencerminkan penghargaan masyarakat terhadap seorang pemimpin yang dinilai telah meninggalkan jejak pembangunan dan perhatian bagi kawasan Indonesia Timur.

Baca Juga :  Propinsi Kepulauan Flores, Ketika Negara Membiarkan Ketimpangan Menjadi Persoalan Menahun

Dalam tradisi masyarakat Timor, gelar adat bukanlah penghargaan yang diberikan secara sembarangan. Gelar tersebut lahir dari pertimbangan para pemangku adat dan para raja yang memegang otoritas budaya di wilayahnya. Karena itu, penganugerahan gelar “Raja Timur” dapat dipandang sebagai bentuk pengakuan moral dan budaya yang memiliki nilai simbolis tinggi.

Penghormatan itu datang dari para raja dan tokoh adat yang mewakili berbagai kerajaan bersejarah di Pulau Timor, di antaranya Kerajaan Sonbai, Kerajaan Kupang, Kerajaan Amarasi, Kerajaan Amfoang, Kerajaan Taebenu, Kerajaan Amanuban, Kerajaan Amanatun, Kerajaan Mollo, serta perwakilan kerajaan dari Belu, Nenuk, Tasifeto, Malaka, Insana, Beboki, dan Miomaffo. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa penghormatan tersebut merupakan representasi dari berbagai komunitas adat yang memiliki akar sejarah panjang di Pulau Timor.

Baca Juga :  Siprianus Doi Resmi Pimpin DPC SOKSI Ende, Siap Konsolidasi dan Bentuk Struktur Kepengurusan

Berita Terkait

Propinsi Kepulauan Flores, Ketika Negara Membiarkan Ketimpangan Menjadi Persoalan Menahun
Nikolaus Sanggu: Bangsa Indonesia yang dibangsatkan oleh Bangsanya Sendiri
Petani, Cadangan Pangan Dan Ketangguhan Flores Menghadapi Bencana
Dede Padama, Mahasiswa Semester I yang Belajar Memimpin dengan Hati
Jangan Sampai Rakyat Mencari Jalan Lain karena Wakilnya Tidak Hadir
Ende Tak Kekurangan Orang Pintar, Mengapa Rakyat Masih Tertinggal?
Flores Tidak Menolak Energi Bersih, Flores Menolak Ketidakadilan
Ulupulu 1 Menunggu Sepiring Harapan, Menguji Komitmen Makan Bergizi Gratis
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Berita Terkait

Minggu, 1 November 2026 - 07:42 WITA

Propinsi Kepulauan Flores, Ketika Negara Membiarkan Ketimpangan Menjadi Persoalan Menahun

Rabu, 19 Agustus 2026 - 14:42 WITA

Petani, Cadangan Pangan Dan Ketangguhan Flores Menghadapi Bencana

Senin, 10 Agustus 2026 - 10:36 WITA

Dede Padama, Mahasiswa Semester I yang Belajar Memimpin dengan Hati

Minggu, 9 Agustus 2026 - 09:55 WITA

Jangan Sampai Rakyat Mencari Jalan Lain karena Wakilnya Tidak Hadir

Jumat, 7 Agustus 2026 - 13:42 WITA

Ende Tak Kekurangan Orang Pintar, Mengapa Rakyat Masih Tertinggal?

Selasa, 4 Agustus 2026 - 09:34 WITA

Flores Tidak Menolak Energi Bersih, Flores Menolak Ketidakadilan

Senin, 3 Agustus 2026 - 08:24 WITA

Jokowi Dianugerahi Gelar Adat “Raja Timur”: Simbol Penghormatan Masyarakat Adat Timor atas Jejak Pembangunan di NTT

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 07:43 WITA

Ulupulu 1 Menunggu Sepiring Harapan, Menguji Komitmen Makan Bergizi Gratis

Berita Terbaru