Opini ; Oleh Niko Sanggu, Jurnalis Muda
Menulis hasil refleksi, menyambut hari Lahir Pers Nasional 9 Februari 2026.
Pers bukanlah sekadar penyampai pesan, melainkan alat bedah yang harus berani membedah borok kekuasaan hingga ke akarnya. Jika sebuah tulisan hanya berisi pujian terhadap pemerintah, itu bukanlah jurnalisme, melainkan pamflet propaganda yang dibayar oleh pajak rakyat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Esensi sejati dari pers adalah menjadi oposisi permanen terhadap segala bentuk kesewenang-wenangan yang disembunyikan di balik meja-meja birokrasi yang rapi.”
Membongkar kebusukan pemerintah adalah mandat moral yang tidak bisa ditawar. Kekuasaan secara alami memiliki kecenderungan untuk korup dan menutupi jejaknya dengan retorika manis atau angka-angka statistik yang dimanipulasi.
Di sinilah pers harus hadir sebagai anjing penjaga yang tidak hanya menggonggong saat melihat ketidakadilan, tetapi juga menggigit narasi-narasi palsu yang digunakan untuk menidurkan kesadaran publik.
Dinding kekuasaan sering kali dibangun dari tumpukan rahasia dan anggaran siluman yang dikelola dalam kegelapan. Tulisan yang tajam adalah cahaya yang memaksa tikus-tikus kantor keluar dari persembunyiannya.
Halaman : 1 2 Selanjutnya


Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe




