Matinya Kepedulian Pemerintah terhadap Desa-Desa di Kabupaten Ende

Avatar photo

- Redaksi

Selasa, 14 Oktober 2025 - 16:35 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Reporter : Niko Sanggu Editor : Redaksi Dibaca 561 Kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nikolaus Sanggu, Mahasiswa Universitas Nusa Nipa Maumere

Nikolaus Sanggu, Mahasiswa Universitas Nusa Nipa Maumere

Masyarakat yang sakit sering kali harus menempuh perjalanan panjang dengan risiko besar hanya untuk mendapatkan perawatan dasar. Di tengah situasi ini, rasa keadilan seolah hanya menjadi slogan kosong.

Padahal, sejak awal kemerdekaan, bangsa ini berdiri di atas fondasi luhur Pancasila — dasar negara yang pertama kali dirumuskan di tanah Ende. Dari bumi inilah lahir gagasan tentang persatuan, kemanusiaan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Baca Juga :  Ketika Dapur Kupang Tercekik Gas, Alarm Keras Kemandirian Energi NTT

Namun, kini di tempat kelahiran Pancasila itu sendiri, sila kelima tampak kehilangan makna. “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” seakan berhenti di atas kertas, tidak menyentuh realitas rakyat kecil yang berjuang naik turun gunung demi mencari kehidupan yang lebih layak.

Pertanyaannya, apakah pemerintah Kabupaten Ende, bahkan pemerintah Indonesia pada umumnya, benar-benar telah mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila? Di mana letak keadilan sosial ketika rakyat kecil harus berjalan kaki puluhan kilometer di jalan berlumpur untuk mencari pengobatan atau pendidikan? Di mana makna kemanusiaan ketika suara masyarakat desa tidak pernah sampai ke ruang kebijakan?

Baca Juga :  Ribuan Pelayat Antar Kepala Desa Mautenda Barat Robertus Y.M. Sega ke Peristirahatan Terakhir

Berita Terkait

Propinsi Kepulauan Flores, Ketika Negara Membiarkan Ketimpangan Menjadi Persoalan Menahun
Nikolaus Sanggu: Bangsa Indonesia yang dibangsatkan oleh Bangsanya Sendiri
Petani, Cadangan Pangan Dan Ketangguhan Flores Menghadapi Bencana
Dede Padama, Mahasiswa Semester I yang Belajar Memimpin dengan Hati
Jangan Sampai Rakyat Mencari Jalan Lain karena Wakilnya Tidak Hadir
Ende Tak Kekurangan Orang Pintar, Mengapa Rakyat Masih Tertinggal?
Flores Tidak Menolak Energi Bersih, Flores Menolak Ketidakadilan
Jokowi Dianugerahi Gelar Adat “Raja Timur”: Simbol Penghormatan Masyarakat Adat Timor atas Jejak Pembangunan di NTT
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Berita Terkait

Minggu, 1 November 2026 - 07:42 WITA

Propinsi Kepulauan Flores, Ketika Negara Membiarkan Ketimpangan Menjadi Persoalan Menahun

Rabu, 19 Agustus 2026 - 14:42 WITA

Petani, Cadangan Pangan Dan Ketangguhan Flores Menghadapi Bencana

Senin, 10 Agustus 2026 - 10:36 WITA

Dede Padama, Mahasiswa Semester I yang Belajar Memimpin dengan Hati

Minggu, 9 Agustus 2026 - 09:55 WITA

Jangan Sampai Rakyat Mencari Jalan Lain karena Wakilnya Tidak Hadir

Jumat, 7 Agustus 2026 - 13:42 WITA

Ende Tak Kekurangan Orang Pintar, Mengapa Rakyat Masih Tertinggal?

Selasa, 4 Agustus 2026 - 09:34 WITA

Flores Tidak Menolak Energi Bersih, Flores Menolak Ketidakadilan

Senin, 3 Agustus 2026 - 08:24 WITA

Jokowi Dianugerahi Gelar Adat “Raja Timur”: Simbol Penghormatan Masyarakat Adat Timor atas Jejak Pembangunan di NTT

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 07:43 WITA

Ulupulu 1 Menunggu Sepiring Harapan, Menguji Komitmen Makan Bergizi Gratis

Berita Terbaru