“Realitas lapangan menunjukkan banyak kader kami justru memilih mendukung kader sendiri. Namun, hari ini, demi kepentingan masyarakat dan pembangunan daerah, kita harus bersatu,” ujar Karni Lando.
Sikap ini memunculkan pertanyaan: apakah Perindo tengah mencoba menyesuaikan posisi demi tetap relevan dalam peta politik lokal? Dengan tiga kursi di DPRD Nagekeo, Perindo tentu memiliki daya tawar.
Dukungan terhadap kepemimpinan baru bisa jadi bukan sekadar tanggung jawab moral, melainkan strategi politik demi memastikan posisi yang menguntungkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kericuhan DPRD dan Makna di Baliknya
Tak bisa diabaikan, insiden di DPRD Nagekeo menjadi latar penting pernyataan ini. Kericuhan yang terjadi setelah pidato perdana Bupati Simplisius bukan sekadar “dinamika demokrasi” seperti yang dinarasikan oleh Karni Lando.
Sumber di internal DPRD menyebutkan bahwa gesekan terjadi karena ketidaksepahaman dalam melihat arah kebijakan pemerintahan yang baru berjalan.
“Kami melihat ada indikasi tarik-menarik kepentingan di balik dukungan partai-partai tertentu terhadap pemerintahan sekarang. Perindo bukan satu-satunya yang mengalami dilema ini,” ungkap seorang anggota DPRD yang enggan disebut namanya.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya



Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe



