Korban dan Pelaku Kini Berada Dalam Satu Kubu

Avatar photo

- Redaksi

Sabtu, 15 Februari 2025 - 21:10 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Reporter : Simon Welan Aktivis AMAN Editor : Redaksi Dibaca 1,996 Kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keterangan foto: Yustina Yusmiati dan Pater Yosep Kusi SVD (Foto ; Simon Welan)

Keterangan foto: Yustina Yusmiati dan Pater Yosep Kusi SVD (Foto ; Simon Welan)

Bahkan mereka (masyarakat) menggergaji pohon – pohon kelapa (67 pohon), pohon – pohon jati besar (42 pohon), dan kayu – kayu itu mereka gunakan untuk membangun rumah dan dibisniskan.

Ketika saya melaporkan peristiwa ini ke polisi bahwa telah terjadi tindakan pencurian, saya malah dicari dan mau dibunuh. Puluhan orang, perempuan dan laki – laki membawa parang, panah, dan kayu mengepung rumah seminari di Patiahu. Semua kamar, kapela bahkan sampai dapur diperiksa untuk mencari saya. Saya harus dibunuh.

Baca Juga :  Ulasan Lonn Segi Tak Sepanjang Gelarnya

Peristiwa itu begitu mencekam, karyawan – karyawati lari menyelamatkan diri. Kami yang bekerja di Patiahu dijaga oleh puluhan tentara dan polisi selama dua bulan karena nyawa kami terancam.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ini pernyataan – pernyataan yang penulis kutip dari tulisan P. Yosep Kusi, SVD yang merupakan salah satu korban serangan dari sekelompok orang yang mendiami tanah HGU di lokasi Patiahu (Hitohalok) milik missi SVD.

Baca Juga :  Pena pisau bedah ; “Kebusukan Para penguasa”

Peran Yustina Yusmiani di Patiahu

Untuk mengungkap peran warga masyarakat di Hitohalok sebagaimana yang digambarkan oleh P. Yosep Kusi, SVD, berikut petikan wawancara dengan bapak Ricardus Eduardus Sareng MSc, seorang aktivis senior yang secara intensif mendampingi masyarakat di Hitohalok.

Berita Terkait

Menanti Kebangkitan Sepak Bola NTT Lewat Piala Gubernur Liga 4 ETMC 2026 di Flores Timur
Menakar Nalar Lonn Segi ; Antara Kritik Intelektual dan Drama Privasi
Ulasan Lonn Segi Tak Sepanjang Gelarnya
Ketika Dapur Kupang Tercekik Gas, Alarm Keras Kemandirian Energi NTT
Pena pisau bedah ; “Kebusukan Para penguasa”
Tragedi Pendidikan di Ngada dan Tanggung Jawab Negara terhadap Anak Miskin
Natal, Nurani Sosial, dan Tanggung Jawab Kemanusiaan Menyongsong 2026
Ketika Ibu Melahirkan Tanpa Dokter Anestesi, Siapa yang Bertanggung Jawab?
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Berita Terkait

Selasa, 14 April 2026 - 13:11 WITA

Menanti Kebangkitan Sepak Bola NTT Lewat Piala Gubernur Liga 4 ETMC 2026 di Flores Timur

Selasa, 31 Maret 2026 - 23:23 WITA

Ulasan Lonn Segi Tak Sepanjang Gelarnya

Rabu, 11 Maret 2026 - 19:02 WITA

Ketika Dapur Kupang Tercekik Gas, Alarm Keras Kemandirian Energi NTT

Minggu, 8 Februari 2026 - 18:52 WITA

Pena pisau bedah ; “Kebusukan Para penguasa”

Sabtu, 7 Februari 2026 - 18:59 WITA

Tragedi Pendidikan di Ngada dan Tanggung Jawab Negara terhadap Anak Miskin

Selasa, 23 Desember 2025 - 21:22 WITA

Natal, Nurani Sosial, dan Tanggung Jawab Kemanusiaan Menyongsong 2026

Selasa, 21 Oktober 2025 - 08:06 WITA

Ketika Ibu Melahirkan Tanpa Dokter Anestesi, Siapa yang Bertanggung Jawab?

Jumat, 17 Oktober 2025 - 12:52 WITA

Menimbang Ulang Ambisi Bapak Presiden Prabowo Terbitkan Perpres tentang Olah Sampah Jadi Energi

Berita Terbaru