Bahkan mereka (masyarakat) menggergaji pohon – pohon kelapa (67 pohon), pohon – pohon jati besar (42 pohon), dan kayu – kayu itu mereka gunakan untuk membangun rumah dan dibisniskan.
Ketika saya melaporkan peristiwa ini ke polisi bahwa telah terjadi tindakan pencurian, saya malah dicari dan mau dibunuh. Puluhan orang, perempuan dan laki – laki membawa parang, panah, dan kayu mengepung rumah seminari di Patiahu. Semua kamar, kapela bahkan sampai dapur diperiksa untuk mencari saya. Saya harus dibunuh.
Peristiwa itu begitu mencekam, karyawan – karyawati lari menyelamatkan diri. Kami yang bekerja di Patiahu dijaga oleh puluhan tentara dan polisi selama dua bulan karena nyawa kami terancam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ini pernyataan – pernyataan yang penulis kutip dari tulisan P. Yosep Kusi, SVD yang merupakan salah satu korban serangan dari sekelompok orang yang mendiami tanah HGU di lokasi Patiahu (Hitohalok) milik missi SVD.
Peran Yustina Yusmiani di Patiahu
Untuk mengungkap peran warga masyarakat di Hitohalok sebagaimana yang digambarkan oleh P. Yosep Kusi, SVD, berikut petikan wawancara dengan bapak Ricardus Eduardus Sareng MSc, seorang aktivis senior yang secara intensif mendampingi masyarakat di Hitohalok.



Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe




