FLOTIM, – Di tengah keterbatasan fasilitas dan minimnya apresiasi terhadap seni di daerah, Pius Payong, seorang perajin dan pembuat patung asal Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, justru menunjukkan kiprah inspiratif. Ia tidak hanya berkarya dari bahan limbah, tetapi juga membangun ruang belajar gratis bagi anak-anak di lingkungannya.
Sejak kecil, Pius telah menaruh minat besar pada dunia seni. Ketertarikan itu terus berkembang hingga ia menekuni seni ukir dan patung berbahan semen. Sejak 2015, ia mulai fokus mengolah tempurung kelapa menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi.
“Setiap karya punya cerita sendiri. Nilai seni bukan dari bagus atau tidak, tapi dari maknanya,” ujar Pius, Rabu, 18 Maret 2026.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam proses berkarya, ia memanfaatkan bahan-bahan sederhana seperti akar kayu, bambu, dan tempurung kelapa. Baginya, penggunaan material tersebut bukan hanya soal estetika, tetapi juga bentuk kepedulian terhadap lingkungan dengan mengurangi limbah rumah tangga.
Produk berbahan tempurung kelapa yang ia hasilkan bahkan kerap diminati wisatawan asing. Selain unik, karya tersebut dinilai ramah lingkungan dan memiliki nilai filosofis. Pius menyebut pemanfaatan tempurung sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya



Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe



