“Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita.”
Kalimat itu tentu tidak berarti bahwa setiap bencana adalah hukuman Tuhan. Justru kekuatan pesannya terletak pada introspeksi.
Musibah seakan mengajak kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah kita sudah memperlakukan alam dengan benar? Apakah kita masih peduli terhadap sesama? Apakah jabatan dan kekuasaan benar-benar digunakan untuk melayani? Apakah pembangunan dilakukan untuk kesejahteraan bersama? Apakah kita masih mau mendengar suara mereka yang lemah? Dan apakah keserakahan manusia telah membuat kita lupa bahwa bumi ini bukan hanya milik kita hari ini, tetapi juga milik generasi yang akan datang?
Apakah Alam Sudah Tidak Berdamai dengan Indonesia?
Secara ilmiah, kita tidak dapat mengatakan bahwa alam sedang marah kepada Indonesia. Gempa bumi terjadi karena pergerakan lempeng tektonik. Gunung api meletus karena dinamika magma dan tekanan di dalam bumi. Cuaca ekstrem pun memiliki mekanisme atmosfernya sendiri.
Namun ada bencana yang dampaknya dapat diperparah oleh perilaku manusia.
Hutan yang dibakar, bukit yang digunduli, daerah resapan yang hilang, sungai yang rusak, tambang yang tidak direhabilitasi, tata ruang yang mengabaikan risiko, pembangunan yang tidak memperhatikan daya dukung lingkungan, serta lemahnya pengawasan dapat membuat sebuah bencana menjadi jauh lebih merusak.
Karena itu, mungkin pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukan:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Halaman : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Selanjutnya


Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe




