Pemerintah perlu menyadari bahwa alarm May Day terus berbunyi setiap tanggal 1 Mei. Itu adalah tanda bahwa persoalan ketenagakerjaan, ketimpangan upah, dan lemahnya perlindungan pekerja belum sepenuhnya tuntas.
Selama suara itu masih terus terdengar, berarti masih ada pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan negara.
May Day juga mengingatkan kita pada pentingnya merekonstruksi kembali gagasan sosialisme Indonesia sebagaimana pernah dirintis dalam jalan politik Presiden Soekarno.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sosialisme Indonesia bukan soal ideologi sempit, melainkan tentang keberpihakan kepada kaum kecil, pemerataan kesejahteraan, gotong royong ekonomi, dan negara yang hadir melindungi rakyatnya.
Ironisnya, hari ini semangat sosialisme lebih sering terdengar dari teriakan buruh dan mahasiswa di jalanan, sementara pemerintah maupun partai politik justru semakin jarang menyuarakan keadilan sosial secara nyata.
Padahal, cita-cita kemerdekaan Indonesia tidak bisa dipisahkan dari semangat memuliakan rakyat pekerja.
Kita juga harus menyadari bahwa persoalan upah tidak layak bukan hanya terjadi di pabrik-pabrik. Di luar sektor formal pun praktik serupa masih banyak ditemukan: pekerja rumah tangga, buruh harian, pekerja informal, hingga tenaga lepas yang dibayar jauh dari nilai kerja mereka.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya



Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe




