Pengembangan Geothermal di Flores, Mencari Titik Temu untuk Kepentingan Bersama

Avatar photo

- Redaksi

Sabtu, 19 Juli 2025 - 20:49 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Reporter : Marsianus Nggumbe Nggoi Editor : Redaksi Dibaca 395 Kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Marsianus Nggumbe Nggoi, Anggota Penyatu PMKRI Cabang Yogyakarta

Marsianus Nggumbe Nggoi, Anggota Penyatu PMKRI Cabang Yogyakarta

Opini Oleh ; Marsianus Nggumbe Nggoi, Anggota Penyatu PMKRI Cabang Yogyakarta

Pengembangan energi panas bumi (geothermal) di Flores telah menimbulkan perdebatan yang tajam antara kebutuhan akan energi bersih dan kekhawatiran terhadap kerusakan lingkungan serta dampak sosial. Di satu sisi, geothermal merupakan sumber energi terbarukan yang rendah emisi karbon dan berkontribusi pada ketahanan energi nasional.

Baca Juga :  Ketika Ibu Melahirkan Tanpa Dokter Anestesi, Siapa yang Bertanggung Jawab?

Menurut Badan Geologi Kementerian ESDM (2021), Indonesia memiliki potensi panas bumi sebesar 23,7 GW, dan Flores merupakan salah satu wilayah yang memiliki cadangan signifikan. Pengelolaan potensi ini dapat mendukung program energi berkelanjutan sekaligus memperkuat infrastruktur dasar di wilayah timur Indonesia yang selama ini kekurangan pasokan listrik.

Namun, di sisi lain, suara-suara penolakan dari masyarakat adat dan pegiat lingkungan tidak bisa diabaikan begitu saja. Beberapa proyek panas bumi di Flores dianggap mengancam kawasan hutan lindung, sumber mata air, dan situs budaya masyarakat lokal. Seperti yang dicatat oleh WALHI dan studi Universitas Nusa Cendana (2023), proyek geothermal di beberapa wilayah seperti Ulumbu dan Wae Sano telah menimbulkan kecemasan akan kehilangan ruang hidup dan rusaknya ekosistem lokal. Risiko ini menjadi semakin besar jika pelibatan masyarakat tidak dilakukan secara inklusif dan berkeadilan.

Baca Juga :  Menanti Kebangkitan Sepak Bola NTT Lewat Piala Gubernur Liga 4 ETMC 2026 di Flores Timur

Berita Terkait

Menanti Kebangkitan Sepak Bola NTT Lewat Piala Gubernur Liga 4 ETMC 2026 di Flores Timur
Menakar Nalar Lonn Segi ; Antara Kritik Intelektual dan Drama Privasi
Ulasan Lonn Segi Tak Sepanjang Gelarnya
Ketika Dapur Kupang Tercekik Gas, Alarm Keras Kemandirian Energi NTT
Pena pisau bedah ; “Kebusukan Para penguasa”
Tragedi Pendidikan di Ngada dan Tanggung Jawab Negara terhadap Anak Miskin
Natal, Nurani Sosial, dan Tanggung Jawab Kemanusiaan Menyongsong 2026
Ketika Ibu Melahirkan Tanpa Dokter Anestesi, Siapa yang Bertanggung Jawab?
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Berita Terkait

Selasa, 14 April 2026 - 13:11 WITA

Menanti Kebangkitan Sepak Bola NTT Lewat Piala Gubernur Liga 4 ETMC 2026 di Flores Timur

Rabu, 1 April 2026 - 07:59 WITA

Menakar Nalar Lonn Segi ; Antara Kritik Intelektual dan Drama Privasi

Rabu, 11 Maret 2026 - 19:02 WITA

Ketika Dapur Kupang Tercekik Gas, Alarm Keras Kemandirian Energi NTT

Minggu, 8 Februari 2026 - 18:52 WITA

Pena pisau bedah ; “Kebusukan Para penguasa”

Sabtu, 7 Februari 2026 - 18:59 WITA

Tragedi Pendidikan di Ngada dan Tanggung Jawab Negara terhadap Anak Miskin

Selasa, 23 Desember 2025 - 21:22 WITA

Natal, Nurani Sosial, dan Tanggung Jawab Kemanusiaan Menyongsong 2026

Selasa, 21 Oktober 2025 - 08:06 WITA

Ketika Ibu Melahirkan Tanpa Dokter Anestesi, Siapa yang Bertanggung Jawab?

Jumat, 17 Oktober 2025 - 12:52 WITA

Menimbang Ulang Ambisi Bapak Presiden Prabowo Terbitkan Perpres tentang Olah Sampah Jadi Energi

Berita Terbaru