Sanggahan Terhadap Narasi “Kebaikan Bersama” dalam Penataan Pantai Ndao
Oleh: Rian Laka Alumni Unflor
Membaca opini Lon Segi, S.Pd., M.Pd. yang mencoba menjustifikasi kebijakan penertiban Pantai Ndao dengan jubah “Kebaikan Bersama”, kita seolah sedang melihat sebuah parade intelektual yang megah di permukaan namun keropos di fondasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Gelar akademis yang berderet panjang seharusnya berbanding lurus dengan ketajaman analisis sosiologis dan empati kemanusiaan. Sayangnya, ulasan saudara Lon Segi dalam perkara Ndao justru nampak kerdil, terjebak dalam diksi-diksi normatif yang jauh dari realitas perut rakyat.
Kekeliruan Fundamental : Kebaikan Bersama atau Eksploitasi Moral?
Saudara Lon Segi berargumen bahwa tidak ada yang salah dengan narasi “Kebaikan Bersama”. Secara teoretis, Bonum Commune adalah cita-cita luhur. Namun, dalam praktik kebijakan di Ndao, narasi ini berubah menjadi Tirani Mayoritas.
Kebaikan bersama tidak boleh dicapai dengan cara menumbalkan hak hidup kelompok kecil. Jika “kebaikan” yang dimaksud adalah pantai yang bersih demi kepuasan mata pelancong namun harus mematikan piring nasi 100 jiwa pedagang lokal, maka itu bukan kebaikan bersama. Itu adalah Eksploitasi Moral.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya



Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe



