“Menyikapi Subjektivitas Lon Segi dalam Debat Penataan Ndao”
Oleh: Rian Laka Alumni Unflor
Dalam sebuah perdebatan publik yang sehat, senjata yang diadu adalah data, logika, dan dialektika. Namun, belakangan ini kita menyaksikan sebuah fenomena menarik—sekaligus memprihatinkan—ketika kritik tajam terhadap sebuah gagasan justru dijawab dengan narasi “tersudutkan secara privasi”.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tanggapan subjektif saudara Lon Segi, S.Pd., M.Pd., di group WhatsApp FORKOMA Ende terhadap opini sanggahan saya sebelumnya mengenai Pantai Ndao, menyingkap sebuah tabir: masih rendahnya kedewasaan kita dalam membedakan mana kritik terhadap kapasitas berpikir dan mana serangan terhadap urusan pribadi.
Mesti saya terangkan bahwa Gelar Akademis Bukan Privasi, Itu Adalah Tanggung Jawab Intelektual. Saudara Lon Segi merasa privasinya terusik ketika gelar akademisnya disandingkan dengan kualitas opininya.
Gelar S.Pd. atau M.Pd. yang disematkan di belakang nama dalam sebuah artikel opini bukanlah sekadar hiasan atau urusan privat. Ia adalah Atribut Intelektual yang sengaja dipamerkan penulis untuk melegitimasi bahwa tulisannya berbobot dan otoritatif.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya



Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe



